Gema Adzan: Soal Cara Berkomunikasi Dengan Tuhan dan Sesama

KETIKA Gus Dur melontarkan kritik (maupun humor) tentang alat pengeras suara di masjid-masjid, boleh dikatakan tak ada yang ‘berani’ dan mampu berargumentasi untuk menolak atau menyatakan ketidaksenangan. Gus Dur kok mau dilawan, mana bisa sih? Tetapi tatkala Dr Budiono, Wakil Presiden Indonesia saat ini, dalam Muktamar Dewan Masjid Indonesia 27 April lalu ikutan memberi saran kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatur pengeras suara di masjid-masjid, agar sayup-sayup saja dan tidak terlalu keras menyentak di telinga, reaksi menentang bermunculan.

MENUNAIKAN SHALAT DI GURUN PASIR. “Pastilah, bersama kita bisa memilih cara yang paling indah dan terbaik dalam berkomunikasi dengan Tuhan dan dengan sesama umat”. (download artvalue.com/lukisan felix michal).

Apa yang menjadi konteks utama saran Budiono –yaitu jangan sampai masjid-masjid jatuh ke tangan mereka penyebar gagasan radikalisme, fanatisme sektarian dan permusuhan terhadap agama lain, dan provokator kekerasan serta terorisme– menjadi tenggelam tak diperhatikan. Isu mengenai keinginan pengaturan pengeras suara di masjid-masjid itu yang justru lebih dikedepankan. Dan dikerucutkan secara tajam seolah-olah yang dipersoalkan adalah gema adzan itu sendiri. Padahal yang barangkali dimaksud Budiono, utamanya bukan mengenai adzan, melainkan penggunaan pengeras suara di masjid untuk berbagai macam hal yang kadang kala memang eksesif.

Kenapa saran Budiono ditentang, sementara kritik langsung maupun humor KH Abdurrahman Wahid tidak? Budiono bukan seorang Kiyai Haji, dan secara politis dia tak dikategorikan ‘golongan Islam’ meskipun ia penganut agama Islam. Dianggap tidak ‘kompeten’. Maka ucapannya mengenai Islam akan dianggap intervensi atau serangan. Seorang tokoh eks Partai Bulan Bintang yang kini mendekatkan diri ke Golkar, Ali Mochtar Ngabalin, yang sering tampil berjubah dan selalu bersorban besar, menyatakan keberatan terhadap pernyataan Wapres Budiono. ”Tidak cocok jika beliau bicara di Muktamar Dewan Masjid Indonesia”. Lengkapnya, di depan muktamar tersebut, Budiono mengatakan “Kita semua berkepentingan agar masjid dijaga jangan sampai jatuh ke tangan mereka yang menyebarkan gagasan yang tidak Islami seperti radikalisme, fanatisme sektarian, permusuhan terhadap agama dan kepercayaan orang lain, dan anjuran-anjuran provokatif yang bisa berujung kepada tindak kekerasan dan terorisme. Islam adalah agama yang sangat toleran. Islam mengajarkan kepada kita bahwa jalan terbaik adalah jalan tengah”.

Sebaliknya, sekeras-kerasnya kritik Gus Dur, tetap dianggap kritik internal, meskipun di tubuh penganut Islam ada sekte-sekte dan perbedaan aliran cara beragama yang bisa sangat tajam. Apalagi, Gus Dur punya pijakan kaki yang kuat di kalangan umat Islam karena memiliki kualitas yang nyaris tak tertandingi oleh kebanyakan tokoh Islam lainnya di Indonesia. Bahkan humornya sekalipun, betapapun menggelitiknya, tak terbantahkan karena cerdas dan tepat mengena.

Dalam sebuah acara televisi, Gus Dur, yang pernah menjadi Presiden Republik Indonesia, menceritakan tentang pembicaraan sejumlah pemuka agama tentang kedekatan penganut agamanya masing-masing dengan Tuhan. Pendeta Kristen menggambarkan, betapa dekat kaum Kristiani dengan Tuhan, sehingga memanggilNya sebagai Bapa kami. Umat Hindu tak kalah dekat dengan Dia dan memanggilNya, “Om…….”. Bagaimana dengan Islam? Kata Gus Dur, “tidak terlalu dekat”, sehingga bila ingin memanggil namaNya, “terpaksa menggunakan pengeras suara dari menara masjid….”.

KRITIK terhadap penggunaan pengeras suara yang berlebihan, hingga dianggap mengganggu, sebenarnya bukan hal yang baru. Di tahun 2009, Majelis Ulama Indonesia di Kalimantan Selatan, pernah melontarkan kritik internal dan menganjurkan pengaturan penggunaan pengeras suara di masjid dan musholla agar tak mengganggu kenyamanan lingkungan. Abdul Mun’im DZ, 19 November 2009, menulis tanggapan “Kritik semacam itu sebenarnya sudah lama dirasakan, tetapi belum ada yang berani melontar keluar”. Persoalan ini, “memiliki sejarah yang panjang di negeri ini”.

Abdul Mun’im lebih jauh menurunkan catatan menarik tentang sejarah yang panjang ini. Menurut uraian Mun’im, hadirnya madzhab yang berbeda dalam Islam sangat mewarnai citra keislaman di negeri ini. Islam yang datang awal mengapresiasi sepenuhnya kebudayaan lokal, sehingga Islam diterima masyarakat secara massif bahkan kemudian Islam tidak hanya menjadi agama, tetapi kemudian terinternalisasi menjadi tradisi. Tradisi Islam ini termanifestasi dalam sikap hidup sehari-hari maupun dalam produk-produk kebendaan termasuk arsitektural. Beduk adalah salah satu bentuk adaptasi Islam terhadap kebudayaan lokal, sehingga peralatan peninggalan zaman lama itu dikukuhkan sebagai sarana keagamaan dan bahkan kemudian menjadi simbol keislaman yang khas Nusantara.

Datangnya aliran Islam baru yang lebih puritan, berusaha memurnikan Islam dari nilai-nilai tradisi setempat, Islam harus di-arab-kan kembali, sehingga timbul puritanisasi besar-besaran sejak pertengahan abad ke-19. Segala sesuatu, tulis Mun’im, ditimbang kembali sesuai  tradisi Arab dan zaman Nabi secara sempit. Maka semua perangkat agama dan peribadatan Islam yang lama yang telah menyatu dengan tradisi itu dianggap sebagai bid’ah. Penggunaan beduk di masjid-masjid adalah salah satu bentuk kebid’ahan yang harus dibersihkan karena Nabi Muhammad SAW tidak pernah menggunakan beduk di masjid.

“Karena tradisi menggunakan beduk itu merupakan sarana penting sebagai petanda dimulainya sembahyang lima waktu, maka ia tetap digunakan karena manfaatnya sangat besar, bahkan telah dianggap sebagai perlengkapan yang tidak bisa dipisahkan dengan masjid. Masjid tanpa beduk dianggap kurang afdol, ia hanya berstatus langgar atau bangunan biasa”.

Namun, ketika mulai memasuki orde baru, saat posisi NU di semua sektor publik mulai dipinggirkan, sementara kelompok Islam modernis yang puritan lebih banyak diperankan, maka  berbagai masjid mulai mengistirahatkan beduk mereka, dibuang atau dimasukkan gudang, karena beduk dianggap bid’ah. Sebagai gantinya dipakailah pengeras suara. “Hanya masjid di lingkungan NU dan pesantren yang tetap menggunakan beduk, di samping pengeras suara”.

Bahkan saat itu Departemen agama mulai turut menggalakkan “de-beduk-isasi”, sebagai alternatifnya digalakkan juga “speakerisasi”, sehingga “Islam yang syahdu menjadi Islam yang riuh”. Walaupun sarana speaker ini tidak ada di zaman Nabi Muhammad tetapi tidak dianggap bid’ah, sehingga sejak saat itu tidak hanya masjid, surau dan langgar pun mulai ramai-ramai menggunakan pengeras suara. “Akibatnya ketika masuk waktu shalat maka secara serentak masjid, mushalla yang banyak jumlahnya di satu kawasan menyuarakan adzan bersamaan, sehingga tidak ada yang bisa didengarkan secara khidmat. Maka speaker atau pengeras suara yang semula diniatkan untuk memperdengarkan adzan, sebaliknya kemudian malah menyebabkan terjadinya pengaburan suara adzan”.

Dalam perjalanan waktu, speaker di masjid dan langgar digunakan sesuai dengan kepentingan sendiri: sebagai sarana untuk adzan, untuk pengajian dan lain sebagainya, sehingga suasana menjadi riuh. “Sebenarnya tidak semua umat Islam setuju dengan cara ini, apalagi kalangan non Islam. Tetapi tidak ada yang berani mengungkapkan ketidaksetujuannya karena khawatir dianggap anti Islam”.

“Pada mulanya seruan penggunaan speaker itu telah diatur sedemikian rupa, tetapi lama kelamaan peraturan dilupakan sehingga pengeras suara digunakan sesuka hati, mengganggu orang belajar, mengganggu orang tidur dan sebagainya. Apalagi ketika kelompok Islam puritan yang bergaris keras mulai menguasai masjid, maka speaker digunakan memaksa orang lain untuk ikut pengajian, untuk segera sembahyang, padahal kondisi mereka berbeda-beda. Bahkan tidak sedikit ceramah di masjid yang disertai caci maki terhadap tokoh yang menjadi lawannya, maka upaya penertiban yang diserukan kalangan pimpinan Islam sendiri ini perlu mendapatkan perhatian, agar Islam menjadi agama yang tetap syiar, tetapi lebih hening, santun dan piawai di hadapan umatnya sendiri dan umat yang lain”. Demikian Abdul Mun’im DZ menulis.

PENGGEMA adzan yang pertama, tak lain adalah Bilal seorang bekas budak berkulit hitam yang menjadi muslim sejak awal di zaman Nabi Muhammad. Tentu tanpa bantuan alat pengeras suara elektronik. Dikisahkan, adzan yang digemakan Bilal, sungguh indah dan nikmat di telinga sehingga ‘meresap’ nyaman ke dalam hati. Untuk mengingatkan tibanya waktu shalat, Bilal menggemakan adzan dari tempat-tempat yang tinggi, seperti tembok atau bubungan bangunan di Madinah maupun di Ka’bah ketika kota suci Makkah telah ditaklukkan pasukan muslim di tahun 630. Belakangan, suara adzan digemakan dari menara-menara masjid. Sejak kapan masjid mulai punya menara untuk menggemakan adzan? Menurut Fuad Hashem (almarhum) dalam sebuah bukunya yang kecil dan unik, Diam Tertawa Menangis (Penerbit Mizan, 1989) menara  masjid  muncul pertama kali di Damaskus, jauh kemudian setelah Bilal menggemakan adzan pertama kali. Masjid bermenara yang pertama itu adalah bekas gereja. “Di zaman Mu’awiyah, bangunan gereja yang dirombak itu terletak berdempetan dengan sebuah bekas menara jaga benteng Yunani, dengan tinggi sekitar 17 meter. Bangunan itu dibiarkan utuh”. Inilah pertama kali sebuah menara menjadi tempat muazin menyerukan adzan mengajak kaum muslim menunaikan shalat.

ADZAN yang disampaikan dengan indah, dengan gema suara yang nyaman teratur, lima kali dalam sehari, semestinya tidaklah mengganggu. Pastilah, bersama kita bisa memilih cara yang paling indah dan terbaik dalam berkomunikasi dengan Tuhan dan dengan sesama umat.

Advertisements

One thought on “Gema Adzan: Soal Cara Berkomunikasi Dengan Tuhan dan Sesama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s