Kisah Aksi Tempeleng, Tendang dan Tembak Oleh Petinggi Negara

KASUS tempeleng dan tendang oleh Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana dan rombongan sidaknya terhadap sipir-sipir LP Pekanbaru Riau 3 April dinihari, selain menimbulkan polemik, juga menguak ingatan terhadap perilaku kekerasan serupa yang dilakukan para petinggi negara di masa lampau. Bedanya, dulu perbuatan semena-mena oleh para petinggi dalam kekuasaan tak berani dipersoalkan secara terbuka. Kini, tindakan serupa pasti menjadi sorotan publik dan pers, serta menghadapi tuntutan untuk dituntaskan.

WAJAH KARIKATURAL INDRAYANA DALAM THE JAKARTA HERALD. “Satu kali tepuk, sang Wakil Menteri telah melanggar dua hal yang menopang nama Kementerian yang ikut dipimpinnya, yakni Hukum dan Hak Azasi Manusia”.

Tak kurang dari Jenderal Soeharto di masa puncak kekuasaannya, berkali-kali melontarkan ancaman akan bertindak keras terhadap mereka yang mengecam diri atau keluarganya. Antara lain, saat peranan Ibu Negara Siti Suhartinah Soeharto disorot dalam kaitan proyek Taman Mini Indonesia Indah. Sewaktu tokoh kesatuan aksi 1966, Adnan Buyung Nasution dalam suatu pertemuan 13 Juni 1967 mengecam ABRI rakus, Jenderal Soeharto berang. Kontan pada pertemuan itu juga, Soeharto mengatakan “Kalau bukan saudara Buyung yang mengatakan, pasti sudah saya tempeleng…”. Soeharto tak pernah betul-betul menempeleng Buyung, namun sesudah Peristiwa Malari atau Peristiwa 15 Januari 1974, tokoh kritis ini termasuk di antara mereka yang ditangkap selain Rahman Tolleng dan Hariman Siregar.

Sebaliknya, Jenderal Soeharto pernah diceritakan ‘kena tangan’ Jenderal Ahmad Yani, terkait kasus dump truck dan penyelundupan untuk tujuan dana di lingkungan Kodam Diponegoro yang dianggap melibatkan Soeharto yang kala itu menjabat Panglima, bersama Lim Soei Liong. Jenderal AH Nasution mengajukan surat pemecatan Jenderal Soeharto, dan surat itu sudah tiba di meja Presiden Soekarno. Tetapi Jenderal Gatot Soebroto, memenuhi permintaan tolong ibu Tien Soeharto, berhasil membujuk Soekarno untuk tidak memecat Soeharto.

Tempelengan yang betul-betul telak pernah hinggap di pipi seorang sopir bus di ibukota. Penempelengnya tak lain Gubernur DKI Ali Sadikin, yang seorang Letnan Jenderal Marinir. Sang Gubernur kesal oleh perilaku ugal-ugalan sang sopir di jalanan. Banyak yang memberi pembenaran atas tindakan Ali Sadikin, karena memang waktu itu para pengemudi bus sering berperilaku bagai setan jalanan. Tapi tak kurang banyak juga yang tetap menganggap gaya kekerasan seperti itu tak pantas dilakukan seorang pejabat pemerintah.

KARIKATUR TEMPELENG, JENDERAL SOEHARTO-BUYUNG NASUTION. Soeharto mengatakan “Kalau bukan saudara Buyung yang mengatakan, pasti sudah saya tempeleng…”. (Karikatur Harijadi S, Mingguan Mahasiswa Indonesia, Bandung 1967).

Salah satu bekas Walikota Bandung, beberapa tahun lalu, Kolonel Aa Tarmana, dikenal suka menampar orang. Ia lalu menjadi bintang dalam joke almarhum pelawak Kang Ibing: “Kalau mau makan enak pergi saja ke AA Laksana”. AA Laksana adalah salah satu tempat makan terkenal di Bandung. “Kalau mau siraman rohani, pergi ke Aa Gym”. Tapi kalau mau ditempeleng, “pergi ke Aa Tarmana”.

Letnan Jenderal Hendropriyono, lebih dari sekedar menempeleng, tapi menembak-nembak, saat ia masih menjabat Pangdam Jaya. Ia melepas tembakan karena kesal terhadap seorang pengguna jalan lainnya. Jadi, kalau tidak mau ditembaki, jangan coba-coba menyalib mobil Jenderal Hendropriyono. Tetapi yang betul-betul pernah membuktikan diri sebagai penembak jitu, adalah Jenderal Purn. Ibrahim Adjie, mantan Pangdam Siliwangi. Suatu waktu, beberapa tahun yang lalu, turun dari mobil di depan rumahnya ia dicegat perampok. Dengan cekatan ia menarik pistol dan menembak jatuh sang penjahat.

Dua anak jenderal pernah diadili karena menembak orang. Pertama, anak Jenderal Polisi Widodo Budidarmo Kapolda Metro Jaya puluhan tahun lalu, yang menembak ‘tanpa sengaja’ seorang polisi anakbuah ayahandanya. Kedua, adalah putera Mayjen Ali Moertopo, yang melakukan hal yang sama terhadap bawahan ayahnya. Dua-duanya diadili, tetapi selamat terutama karena masih di bawah umur saat peristiwa terjadi. Orang sepakat, bahwa orangtua mereka lah yang sebenarnya lalai.

Tentu masih banyak cerita lain yang bisa jadi contoh. Tetapi pada umumnya, para petinggi kekuasaan,  karena kekuasaannya dengan sendirinya tak perlu kena sanksi apa pun, kecuali jadi sasaran gerutu publik di bawah permukaan. Meski, sesekali, ada juga kesewenang-wenangan kaum atasan terhadap bawahan yang bisa kena ‘batu’nya. Salah satu contoh, dialami seorang jenderal beberapa puluh tahun lampau. Sang jenderal ‘mempermainkan’ isteri bawahannya. Si bawahan nekad, ia menghajar atasannya, dan tidak tanggung-tanggung mengerat kuping sang atasan. Seumur hidupnya kemudian, sang jenderal tampil tanpa kuping sebelah. Sebaliknya, ada seorang jenderal merasa sakit hati, karena atasan tertingginya ibarat tak bertelinga ketika mendengar pengaduannya. Anak perempuannya menjadi korban tipu daya dengan tujuan seksual oleh seorang jenderal lainnya. Tatkala mengadu kepada Presiden Soeharto, sang atasan hanya mengangguk-angguk dan tak pernah bertindak apa-apa. Jenderal Purnawirawan yang pernah menjadi Panglima Kodam di wilayah terkemuka itu, marah, kecewa, dan bergabung dengan Kelompok Petisi 50 yang menentang Soeharto.
Seorang jenderal terkemuka, juga pernah terlibat kelakuan keji. Ia ‘merampas’ isteri cantik seorang petinggi hukum dengan tekanan kekuasaan, setelah Peristiwa 30 September 1965. Lebih dulu ia menangkap sang suami dengan tuduhan terlibat PKI untuk menakut-nakuti dan menjatuhkan mental sang isteri. Tak pernah dibuktikan kemudian bahwa sang suami betul-betul terlibat PKI, karena persoalan dan motif utama bukan di situ.

SEBAGIAN besar sikap sewenang-wenang, ringan tangan ke bawahan, lalim terhadap kalangan akar rumput dan atau mereka yang lemah, melekat pada kekuasaan. Makin longgar pengawasan atau kontrol dan keseimbangan terhadap kekuasaan, makin tinggi pula sikap semena-mena. Adagium klasik Lord Acton yang kerap diulang-ulang, berbunyi power tend to corrupt, absolute power tend to corrupt absolutely. Makin berkuasa seseorang, makin cenderung juga kesewenang-wenangannya secara kualitatif. Sementara itu, mereka yang baru ikut mencicipi kekuasaan, biasanya juga terhinggapi sindrom OKB –sindrom orang kuasa baru, yang sejenis dengan sindrom orang kaya baru.

Sindrom orang kuasa baru ini agaknya menghinggapi banyak orang yang menjadi bagian atau peserta barisan kekuasaan saat ini. Seringkali, mereka yang hanya berposisi sampingan pun bisa tak kalah hebat kelakuannya dengan yang ada di poros kekuasaan. Bisa dilihat dari lontaran-lontaran ucapannya yang kerap overdosis, bahkan tak kalah sering sikap koruptifnya pun tak kalah buas dan rakus. Angka manipulasi dengan skala triliunan, menjadi makin lazim. Operator dan play maker banyak diperankan oleh tokoh-tokoh samping yang akhirnya menjadi pelakon penting. ‘Keras’nya persaingan di lingkaran pusat kekuasaan untuk berlomba unjuk diri kepada penguasa puncak, tak kalah hebatnya melahirkan sikap dan perilaku overacting para ekor bintang.

Apakah tokoh muda yang sebenarnya penuh harapan seperti Denny Indrayana ikut terbawa pusaran arus kekuasaan lengkap dengan segala lekatan sindroma? Beberapa kejutan dari gebrakannya di bidang penegakan hukum selama ini, sebenarnya cukup menjanjikan bagi para pendamba penegakan hukum, dalam konteks keadilan dan kebenaran. Meskipun, belum cukup spektakuler. Tapi setidaknya, Denny menjadi the bad among the worst. Hanya sayang, sudah lebih dari sekali ia disorot telah melakukan kebohongan publik.

Dalam kasus kekerasan terhadap sipir LP Pekanbaru, korbannya mengaku betul ditampar sang Wakil Menteri, tetapi memaafkan. Denny sendiri bersikeras membantah. Ia mengaku tidak memukul, tapi justru mencegah pemukulan. Publik tampaknya lebih percaya bahwa Denny memang melakukan kekerasan itu. Bantahannya tidak meyakinkan. Ia tidak menyebutkan siapa yang dicegahnya melakukan pemukulan. Kalau ia langsung berterusterang menunjuk pelaku sebenarnya, apakah itu ajudannya ataukah petugas BNN yang serombongan bersamanya melakukan sidak dinihari itu, orang akan lebih percaya. Kalau ia hanya main tunjuk, tentu yang ditudingnya akan membantah. Kecuali ada yang mau disuruh pasang badan. Karena ia tidak menunjuk nama, ia disangka takut sebab mungkin saja memang ia sendiri yang melakukan kekerasan itu.

Ada pihak yang tampaknya ingin membela Denny, dengan asumsi bahwa para petugas LP kita saat ini memang brengsek sehingga pantas diperlakukan seperti yang dilakukan Denny. Keterlambatan 5 menit membuka pintu LP, dijadikan alasan kemarahan. Tetapi sikap petugas LP yang mau meyakinkan diri lebih dulu, apakah yang datang itu betul-betul Wakil Menteri, sebelum membuka pintu ada betulnya juga. Para sipir yang mengintip melihat rombongan yang datang, memakai tutup muka. Bukankah bandit dan teroris atau petugas kan sekarang sama-sama memakai tutup muka? Bagaimana kalau yang datang itu, hanya mengaku-aku rombongan Wamen, tetapi ternyata sekelompok orang dengan niat jahat?

Mencoba mempertukarkan ‘jasa’ penegakan hukum yang telah dilakukan Denny sejauh ini dengan pemaafan atau tutup mata terhadap kekerasan yang dilakukannya, tidak relevan. Begitu pula, argumentasi retoris bahwa ada kelompok pelanggar hukum yang menghendaki Denny jatuh, sehingga Denny perlu dibentengi, adalah alasan yang sama tidak relevannya. Penegakan hukum, apapun dan betapapun sulitnya, harus tetap dilakukan menurut cara-cara yang sesuai hukum. Jangan menegakkan hukum dengan melanggar hukum. Rombongan Denny Indrayana telah melakukan seperti itu. Sekaligus, juga melakukan pelanggaran HAM. Satu kali tepuk, sang Wakil Menteri telah melanggar dua hal yang menopang nama Kementerian yang ikut dipimpinnya, yakni Hukum dan Hak Azasi Manusia. Harus ada pertanggunganjawabnya.

Advertisements

One thought on “Kisah Aksi Tempeleng, Tendang dan Tembak Oleh Petinggi Negara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s