NU, Kaum ‘Sarungan’ yang Gamang dalam Dunia Modern (2)

PESANTREN yang berkultur NU adalah  tipe pesantren kuno yang ada sejak era Walisongo, dengan ciri khas adanya ritual tahlilan. Ritual biasanya berlangsung malam Jum’at, shalat subuh dan paruh kedua tarawih memakai qunut, salat tarawih 20 raka’at dan mengaji kitab kuning. Pesantren NU tersebut sangat toleran dan akomodatif pada kultur lokal.

ABDURRAHMAN WAHID, CUCU PENDIRI NU. “Di bawah kepemimpinan Gus Dur –nama akrab KH Abdurrahman Wahid, cucu pendiri NU– pasca muktamar Situbondo, NU berkembang pesat dengan menampakkan jatidirinya yang baru. Dengan upaya pemberdayaan yang digencarkannya membuat kaum nahdliiyin tidak lagi dilihat sebagai kaum ‘sarungan’ dari pinggiran yang nyaris terbelakang”. (foto download).

Dari segi sistem, ada dua model pendidikan pesantren NU yaitu Pesantren Salaf dan Modern (Kholaf). Pesantren Salaf atau salafiyah –perlu dibedakan kata “salaf” atau “salafiyah” di sini yang bermakna tradisional atau kuno, dengan “Salafi” yang menjadi nama lain dari Wahabi– menganut sistem pendidikan tradisional ala pesantren dengan sistem pengajian kitab kuning dan madrasah diniyah. Contoh Pesantren salaf murni yang besar dan tua, adalah Ponpes Sidogiri Pasuruan, Pesantren Langitan, Pondok Lirboyo Kediri. Sedangkan pesantren modern, memprioritaskan pendidikan pada sistem sekolah formal dan penekanan bahasa Arab modern. Sistem pengajian kitab kuning, baik pengajian sorogan wetonan maupun madrasah diniyah, ditinggalkan sama sekali. Atau minimal kalau ada, tidak wajib diikuti. Walaupun demikian, secara kultural tetap mempertahankan ke-NU-annya seperti tahlilan, qunut, yasinan, dan tradisi belajar lainnya.

Di luar itu, ada juga pesantren NU yang menganut kombinasi sistem perpaduan antara modern dan salaf. Seperti Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang.

Karena berkembang dari tradisi Indonesia dengan basis di pesantren-pesantren itu, NU menampilkan sosok Islam yang moderat, toleran, selaras dengan tradisi lokal dan menghargai setiap perbedaan, yang sesuai dengan prinsip golongan tengah (ahlussunnah wal jamaah).

Terperangkap dalam dunia politik praktis

Sebagai organisasi tradisional dengan massa akar rumput, sebenarnya NU mempunyai pengaruh politik yang sangat kuat. Continue reading

NU, Kaum ‘Sarungan’ yang Gamang dalam Dunia Modern (1)

Spesies yang dapat bertahan hidupbukanlah yang paling kuat, bukan pula yang paling cerdas, melainkan mereka yang paling mampu menghadapi perubahan”, Charles Darwin, Ilmuwan.

KEHADIRAN Laskar Ahlussunnah Wal Jama’ah (Laskar Aswaja), istilah yang sangat lekat dengan Nahdlatul Ulama (NU), katanya merupakan upaya menangkis wacana dari kelompok Islam radikal yang mengusung pemurnian agama, yang sering menggunakan pendekatan kekerasan untuk menyelesaikan persoalan (Tribunnews.com, Jakarta, Selasa, 20 Maret 2012 15:47 WIB). Walaupun bukan sebagai organ resmi NU, tetapi diawaki oleh orang-orang NU. Masalahnya, sebagai arus utama kelompok Islam di Indonesia pun ternyata NU tak luput dari tindak kekerasan kelompok Islam radikal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mencatat, dalam kurun waktu 2011, setidaknya sudah tiga kali terjadi serangan, baik fisik maupun lisan, terhadap NU di tiga kota. Menurut Wakil Ketua Umum PBNU, As’ad Said Ali di Jakarta, Senin 27 Juni 2011, salah satu obyek penyerangan adalah masjid (Tempo.co.id, Senin, 27 Juni 2011 | 14:21 WIB).

KH HASYIM ASY’ARI, PENDIRI NU. “…. sebagai arus utama kelompok Islam di Indonesia pun ternyata NU tak luput dari tindak kekerasan kelompok Islam radikal. Dalam kurun waktu 2011, setidaknya sudah tiga kali terjadi serangan, baik fisik maupun lisan, terhadap NU di tiga kota.
Penyerangan itu terjadi pada bulan Mei 2011 lalu dengan sasaran imam masjid, yang dianggap ahli neraka. Menurut kelompok radikal tersebut NU yang kental dengan tradisi tahlilan dan ziarah kubur, adalah kelompok bid’ah (sesuatu yang berbeda dan dapat merusak ajaran agama) yang musyrik (mempersekutukan Tuhan)”. (download repro lukisan Mashuri/ elangprince.wordpress.com)

Penyerangan itu terjadi pada bulan Mei 2011 lalu dengan sasaran imam masjid, yang dianggap ahli neraka. Menurut kelompok radikal tersebut NU yang kental dengan tradisi tahlilan dan ziarah kubur, adalah kelompok bid’ah (sesuatu yang berbeda dan dapat merusak ajaran agama) yang musyrik (mempersekutukan Tuhan). Namun, serangan bisa dipadamkan, kelompok radikal itu diusir polisi dan Barisan Ansor Serba Guna (Banser), organisasi keamanan milik NU. Masalahnya, mengapa mereka berani menjadikan NU, sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi, sebagai sasaran? Continue reading