Liem Soei Liong: ‘Penjaga Telur Emas’ Bagi Kekuasaan Jenderal Soeharto (1)

MESKI Liem Soei Liong lahir hampir 5 tahun lebih awal dan meninggal lebih lambat 4 tahun dari Jenderal Soeharto, keduanya seakan ditakdirkan hampir seumur hidup –sejak mula pertama bertemu di pertengahan tahun 50-an– bersama dalam kekuasaan negara di Indonesia. Satu dalam kancah kekuasaan politik dan pemerintahan, sedang satu lainnya dalam kekuasaan ekonomi. Minggu, 10 Juni 2012, kemarin, Liem Soei Liong yang juga dikenal sebagai Sudono Salim, meninggal dunia di Singapura. Menyusul Jenderal Soeharto,yang meninggal dunia lebih dulu pada 27 Januari 2008.

LIEM SOEI LIONG, ‘TELUR EMAS’. “Jenderal Soeharto mampu membuat orang-orang di lingkaran kekuasaannya tidak bersatu dan saling berlomba satu sama lain”. “Dengan ketrampilan tinggi dalam memainkan seorang ‘pangeran’ melawan ‘pangeran’ lainnya dan percaya akan perlunya suatu ‘ketegangan kreatif’ di antara para pembantunya, Soeharto menerapkan gaya divide et impera, pecah belah dan kuasai”. (foto download; suara pengusaha).

Sejak pertengahan tahun 1940-an, Liem Soei Liong –yang baru datang ke Indonesia di tahun 1937, saat berusia 21 tahun– selain berdagang kelontong dan menjual secara kredit, membantu memasok kebutuhan tentara nasional Indonesia. Untuk tentara, Liem Soei Liong memasok pakaian, obat-obatan, sabun, makanan sampai peralatan militer. Ini kemudian berlanjut dengan kegiatan membekali Divisi Diponegoro di tahun 1950-an yang berkedudukan di Semarang. “Seorang Letnan Kolonel yang bernama Soeharto mempunyai tugas mengurus suplai divisi itu”, tulis Ahmad D. Habir dalam buku Donald K. Emerson, Indonesia Beyond Soeharto (1999). “Dalam urusan awal ini, antara orang Tionghoa imigran dan perwira pribumi, terletaklah benih kerjasama seumur hidup”.

Selama masa kerjasama awal di Divisi Diponegoro, Liem Soei Liong, pernah ‘pasang badan’ untuk Soeharto dalam soal dump truk. Tapi dalam peristiwa barter gula dari Jawa Tengah dengan beras dari Singapura, Kolonel Soeharto yang sudah menjadi Panglima Diponegoro hampir tersandung. Kolonel Soeharto dituduh melakukan penyimpangan barter gula-beras itu dengan bantuan Bob Hasan (The Kian Seng) –‘anak’ angkat Jenderal Gatot Soebroto– dan Liem Soei Liong. Dalam pembelaan dirinya, Soeharto menyebutkan dana hasil barter adalah untuk membiayai beberapa kebutuhan Divisi, antara lain untuk membantu masyarakat dan kesejahteraan prajurit, tetapi laporan dari beberapa perwira bawahannya menyatakan tidak demikian.

Meminjam uraian buku ‘Titik Silang Jalan Kekuasan Tahun 1966’ (Rum Aly, Kata Hasta Pustaka, 2006) Kolonel Ahmad Yani yang waktu itu menjadi salah satu Asisten Kasad, amat marah dan mengusulkan kepada Kasad Mayjen AH Nasution agar Soeharto dipecat. Bahkan Yani digambarkan sempat melakukan sentuhan fisik. Pemecatan urung, padahal naskah Surat Keputusan itu –yang diajukan Kasad Nasution– sudah di meja Presiden Soekarno, karena Wakil Kasad Mayjen Gatot Soebroto maju membela Soeharto dan menyatakan Soeharto masih bisa dibina. Nyonya Siti Suhartinah dikabarkan ikut ‘berjuang’, menemui Gatot Soebroto memohon bantuan untuk menyelamatkan karir suaminya, dan berhasil. Soeharto hanya harus melepaskan jabatannya sebagai Panglima Diponegoro dan masuk pendidikan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD) Bandung.

Mengenai soal barter beras dengan gula ini, Jenderal Soeharto dalam bukunya ‘Soeharto – Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya’ (PT Citra Lamtoro Gung Persada, 1989),  hanya menyebutkan keterlibatan Bob Hasan, dan tidak menyinggung nama Liem Soei Liong. Namun apapun yang terjadi, sejak benih kerjasama diletakkan pada pertengahan 1950-an, Liem Soei Liong selalu ada bersama dengan Soeharto yang setapak demi setapak menaiki jenjang kekuasaan di Indonesia, sampai akhirnya tiba di puncak kekuasaan tertinggi sebagai Presiden Republik Indonesia selama 32 tahun lamanya.

Tugas utama Liem Soei Liong, tentu saja terutama adalah mengorganisir sumber dana bagi kekuasaan Soeharto, melalui berbagai cara dengan memanfaatkan momentum-momentum kekuasaan. Beberapa usaha yang dibangun Liem Soei Liong di bawah payung kekuasaan Soeharto, menjadi ibarat ayam-ayam petelur emas. Adalah tugas Liem Soei Liong yang sangat dipercayai Soeharto untuk menjaga ayam-ayam petelur dan telur-telur emas itu agar tetap menjadi sumber pembiayaan politik dan ongkos pemeliharaan kekuasaan Soeharto.

Liem Soei Liong –masih meminjam uraian Ahmad D. Habir– mendirikan Salim Group pada 1968. Ia memanfaatkan monopoli dan konsesi dari pemerintah –hasil hubungannya dengan Soeharto– untuk membangun group itu menjadi imperium bisnis yang besar. Pada tahun-tahun awal, pertumbuhan Salim Group dilakukan lewat pembelian perusahaan lain (akuisisi) sehingga menjadi kumpulan dari berbagai macam perusahaan. Perusahaan (PT) ini meliputi monopoli pabrik tepung (Bogasari) dan perusahaan semen yang kemudian akan go public (Indocement) sampai ke bank swasta terbesar di Indonesia (BCA). Menjelang akhir 1980-an, usaha group-group bisnis ini telah dikonsolidasikan menjadi 11 divisi strategis, masing-masing dengan dewan pengarah untuk mengawasi kegiatannya. Para eksekutif dari perusahaan dalam divisi tertentu bertanggungjawab kepada kepala divisi itu. Semua divisi dikoordinasikan oleh dewan direktur yang mencakup seluruh group.

Liem untuk sekian tahun mengendalikan seluruh usaha. Barulah pada usia 70-an, Liem Soei Liong secara berangsur menyerahkan penguasaan gabungan perusahaan-perusahaan itu ke tangan putera bungsunya, Anthony Salim, yang menjadi Presiden Direktur dan eksekutif kepala. Pada 1990-an, Salim Group dikatakan sudah menjadi konglomerasi terbesar, bukan cuma di Indonesia, melainkan juga di seluruh Asia Tenggara seperti dituliskan Adam Schwarz di Far Eastern Economic Review, 1991, “Empire of the Son”. Menurut catatan Theodore Friend –Indonesian Destinies, 2003– pada tahun 1990 itu Salim Group memperoleh penghasilan USD 8-9 milliar. Penjualan domestik mereka setara dengan 5 persen GDP Indonesia. Menguasai pangsa pasar terbesar perbankan swasta, semen, dan berbagai komoditi lain dari industri otomotif, pengolahan makanan, kimia dan real estate, seraya melakukan ekspansi ke beberapa negara. Total perusahaan kelompok ini berjumlah sekitar 300, namun hanya menampung 135.000 tenaga kerja. Asset group ini dua sampai tiga kali besarnya dari perusahaan lain manapun.

Untuk menjaga sumber kekuatannya –ABRI dan kelompok-kelompok kekuatan politik maupun kekuatan sipil yang ada– Soeharto memang membutuhkan biaya. Kekuasaan Soeharto di hampir sepanjang 32 tahun berkuasa, adalah sebuah campuran kekuasaan yang patrimonial ala Kraton Jawa masa lampau dengan kekuasaan model pretorian ala Romawi, mengingat besarnya peran dan pengaruh para jenderal yang memiliki kekuatan-kekuatan dalam kendalinya masing-masing. Model pretorian sebenarnya bisa berbahaya bagi pemuncak kekuasaan, karena para jenderal dengan segala kekuatannya berpotensi menjadi pengambilalih kekuasaan dengan berbagai alasan, entah atas nama keadilan entah atas nama kepentingan rakyat.

Jenderal Soeharto berhasil menjinakkan pretorianisme dengan menciptakan keseimbangan di antara para jenderal itu sendiri serta pemberian kelimpahan fasilitas dan akses keuangan. Untuk akses yang disebut terakhir ini, Liem Soei Liong menjalankan peranan penting. Secara keseluruhan dalam campuran gaya patrimonial kraton dengan gaya pretorian, seperti dituliskan David Jenkins dalam buku ‘Soeharto dan Barisan Jenderal Orba’ (Komunitas Bambu, 2010), Jenderal Soeharto mampu membuat orang-orang di lingkaran kekuasaannya tidak bersatu dan saling berlomba satu sama lain. “Dengan ketrampilan tinggi dalam memainkan seorang ‘pangeran’ melawan ‘pangeran’ lainnya dan percaya akan perlunya suatu ‘ketegangan kreatif’ di antara para pembantunya, Soeharto menerapkan gaya divide et impera, pecah belah dan kuasai. Dengan cara itu maka mereka yang berpotensi menjadi rivalnya, secara efektif menjadi lemah sementara posisinya sendiri diperkuat”.

Berlanjut ke Bagian 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s