Kisah Manusia, Iblis dan Tuhan

MANUSIA dalam bentuk kurang lebih seperti yang kita kenal sekarang, mulai ada sejak 400.000 tahun lalu. Para ilmuwan hingga sejauh ini sepakat dengan dasar-dasar teori evolusi yang dikemukakan ahli natural dari Inggeris, Charles Darwin –yang hidup di hampir tiga perempat abad ke-19. Dalam teori itu manusia ditempatkan sebagai mata rantai terbaru dalam evolusi setelah jenis primata kera. Di antara bentuk manusia modern dengan kera, terdapat manusia-manusia pra modern yang tampilannya memiliki kemiripan ke masa belakang dan ke masa depan. Meski, tetap terdapat tanda tanya, mengapa peralihan bentuk kera ke bentuk manusia waktunya terlalu ringkas dibanding peralihan di antara mata-mata rantai evolusi sebelumnya, yakni antara organisma awal yang sederhana sampai primata kera, yang secara keseluruhan memakan waktu 3.000.000.000 tahun.

IBLIS TERUSIR DARI SURGA VERSI PELUKIS BARAT. “Malaikat yang kemudian dikenal sebagai Iblis atau Lucifer itu, menolak perintah Tuhan yang satu ini. Ia, oleh karena itu, harus meninggalkan lingkaran satu Tuhan, tapi tak pernah dieliminasi eksistensinya olehNya. Bahkan ada perjanjian terhormat, bahwa seizin Tuhan, Iblis akan menguji manusia dari masa ke masa di sepanjang kehidupan ini”. (gambar download wikipedia)

Dalam konsep agama-agama, penciptaan manusia dimulai dengan penciptaan manusia-manusia pertama dan kedua Adam dan Hawa oleh Tuhan. Penciptaan itu terjadi pada hari keenam dalam proses penciptaan alam semesta oleh Tuhan, sedang pada hari ketujuh Tuhan ber’istirahat’ dan tak mencipta lagi. Berarti, manusia adalah ciptaan yang terakhir. Menurut para ilmuwan, usia alam semesta kini sejak awal tercipta melalui Big Bang, telah mencapai 13,7 milyar tahun, dan Planet Bumi yang kita huni telah berusia 4,6 milyar tahun. Panjang hari Tuhan dan panjang hari dalam pengertian manusia memang berbeda.

“Sepintas”, kata Arnold Toynbee, sejarawan dunia terkemuka dari Inggeris, “ungkapan pos-ilmiah dan ungkapan agama pra-ilmiah mungkin terlihat saling berlawanan”. Tak lain karena, setiap ungkapan agama masa lalu telah disesuaikan dengan pandangan intelektual terkait waktu dan tempat di mana setiap ungkapan khusus diformulasikan. “Namun, esensi agama yang menjadi latarnya, tidak diragukan lagi, sama konstannya dengan esensi watak manusia itu sendiri”. (Arnold Toynbee, ‘Mankind and Mother Earth’).

Kisah paling khusus dalam proses penciptaan manusia, adalah penolakan salah satu malaikat –yang dikemudian hari oleh manusia disebut Iblis menurut versi pemeluk agama Islam, atau Lucifer menurut versi penganut ajaran Kristiani– terhadap perintah Tuhan untuk menghormati dan memuliakan manusia yang menjadi ciptaan terbaruNya. Malaikat yang menggunakan right to dissent atas ketetapan kemuliaan bagi manusia, meragukan manusia yang diciptakan dari bahan dasar tanah itu akan mampu menyandang kemuliaan yang diberikan olehNya, melebihi para mailakat yang diciptakan dengan bahan dasar api. Malaikat yang kemudian dikenal sebagai Iblis atau Lucifer tersebut, menolak perintah Tuhan yang satu ini. Ia, oleh karena itu, harus meninggalkan lingkaran satu Tuhan, tapi tak pernah dieliminasi eksistensinya olehNya. Bahkan ada perjanjian terhormat, bahwa seizin Tuhan, Iblis akan menguji manusia dari masa ke masa di sepanjang kehidupan ini. Iblis atau Lucifer pula yang diberi tugas sekaligus mengepalai neraka.

TERNYATA pra perkiraan Iblis tentang manusia tak sepenuhnya keliru. Sepanjang sejarah umat manusia, setidaknya dalam ribuan tahun terakhir yang bisa kita ketahui, memang di antara sejumlah sifat-sifat baiknya, manusia juga telah membuktikan diri sebagai insan yang lemah penuh dengan berbagai sifat buruk. Secara kualitatif memiliki dalam dirinya sifat dengki dan iri, rakus, kejam dan keji terhadap sesama, dendam dan tak segan membunuh, kleptomania, angkara murka, berbohong kepada sedikit orang maupun membohongi banyak orang dalam satu negara. Bila berkuasa dan lebih kuat secara fisik, menggunakan kekuatan untuk menindas, menguras kekayaan alam dan negara, memperbudak orang lain yang disebut rakyat, korup dan cenderung memperkaya diri sendiri, dan tak segan menipu publik. Sementara itu, mereka yang berhasil mendapat posisi dalam kekuasaan spiritual, tak segan-segan mengatasnamakan agama dan bahkan nama Tuhan, untuk memperkaya diri sendiri, ikut memperoleh dan mencicipi kenikmatan kekuasaan duniawi, termasuk mengeksploitasi manusia lain secara seksual. Dalam bentuk lain penyalahgunaan pengatasnamaan agama dan Tuhan, sekelompok manusia juga tak segan-segan melakukan terorisme terhadap apa yang mereka sebut musuh Tuhan dan agama, dan secara sporadis di sana-sini sekelompok manusia dengan ‘fanatisme’ yang kadangkala tak bisa dipahami lagi, penuh pretensi menempatkan diri sebagai hakim moral terhadap manusia lain.

Tak mengherankan sebenarnya bila manusia kerap berkelakuan tak masuk akal. Seringkali memang manusia juga masih berperilaku bagaikan kera, punya otak tapi tak bernalar, seakan tak mampu melepas diri dari mata rantai terdekatnya dalam proses evolusi.

EMPATPULUH lima tahun yang lalu, Mei 1967, seorang mahasiswa Seni Rupa ITB, yang kala itu dikenal sebagai karikaturis cemerlang, T. Sutanto, menulis sebuah artikel di Mingguan Mahasiswa Indonesia, Bandung, berjudul ‘Tuhan Sang Maha Tiran?’. Judul ini sempat memicu sebuah polemik yang cukup panjang, beberapa di antaranya bernada emosional namun tak sedikitpun memicu kekerasan fisik. Polemik ini bisa diakhiri redaksi dengan baik antara lain dengan sebuah catatan maupun pemuatan tulisan dengan akal sehat yang bersifat menengahi dari penyair terkemuka Taufiq Ismail, ‘Sebuah Test Kecil’.

Sebenarnya tulisan T. Sutanto itu justru mengandung banyak hal yang patut direnungkan dalam menjalani kehidupan beragama. “Agama mengajarkan kepatuhan yang sempurna kepada Tuhan. Mengajarkan bagaimana orang bersedia mati untuk Tuhan”. T. Sutanto mengeluhkan tumbuhnya di kalangan umat, “Militansi yang membentuk manusia fanatik. Bersedia membunuh, atau menyiksa mereka yang telah ‘menyakiti’ hati Tuhan, yang telah menghina atau dianggap menghina Tuhan. Militansi yang membentuk manusia fanatik eksklusif dan yang sanggup berbicara dalam bahasa tinju dan belati. Mereka menjadi lebih peka emosinya, mudah marah, mudah tersinggung”. “Kulihat bahkan Tuhan pun tidak mampu untuk mengalahkan nafsu manusia…..”. Melalui sikap penganut seperti itu, bisa tercipta kesan tentang Tuhan yang seakan-akan tiran dan agama yang berwajah kekerasan.

Terlepas dari polemik itu sendiri, fenomena kekerasan untuk dan atas nama agama, yang tetap saja berlangsung dari waktu ke waktu, harus diakui adalah sumber kecemasan yang belum berakhir hingga kini, tak terkecuali di negara kita. Kekerasan apa yang belum kita alami, mulai dari yang besar-besar seperti Bom Bali, kekerasan menghakimi sendiri penganut Ahmadiyah, penyerbuan pesantren Syiah sampai kepada anarki kecil-kecilan berupa aksi razia oleh ormas-ormas yang berpretensi menegakkan moral Islam? Menjelang bulan Ramadhan, pekan ini, di Bandung misalnya, ormas FPI telah melakukan razia miras yang tak mampu dicegah polisi. Kalau polisi tidak tegas, rangkaian aksi serupa akan bergulir dengan aneka macam pelaku dan pengatasnamaan.

SEPANJANG bulan Ramadhan, seperti yang dipercayai umat, manusia akan sedikit ‘dimudahkan’ dalam menjalankan ibadahnya karena selama bulan suci, para setan suruhan Iblis dirantai oleh para malaikat, sehingga tak bisa leluasa menggoda manusia. Tetapi godaan terbesar bagi manusia sesungguhnya tak lain adalah hawa nafsunya sendiri serta godaan dari sesama manusia. Apalagi setelah bergaul dengan Iblis selama ribuan tahun, banyak manusia yang telah memiliki sifat-sifat Iblis yang melebihi Iblis yang sesungguhnya.

Sebuah kisah penutup, yang bermakna agar manusia jangan berperilaku seperti kera, sehingga bisa cukup berharga, kita sampaikan berikut ini: Di ruang tunggu keberangkatan sebuah bandar udara internasional di Indonesia bagian tengah dua pekan lalu, terlihat seorang yang dikenal sebagai tokoh agama yang cukup terkemuka karena banyak mengisi publikasi media. Sejumlah orang datang menyalami dengan takzim, kebanyakan mencium tangannya. Seorang ibu muda berhijab, termasuk di antaranya. Ketika ia kembali ke tempatnya semula, kepada seorang ibu lainnya yang juga berhijab yang duduk di sebelahnya, ia bertanya “Ibu tak menyalami?”. “Tidak”, jawab sang ibu, “beliau kan yang dulu pernah melakukan nikah mu’thah dengan janda almarhum…..(seraya menyebut sebuah nama)….?”. “Oooh…”, kata si ibu muda. Lalu ibu yang satu melanjutkan, “Kita harus mengenali orang dengan baik…..”. Ada yang bisa disepakati dari ibu ini, yakni hormatilah hanya orang yang pantas dihormati.

Lapangkan hati memasuki bulan suci Ramadhan ini. (sociopolitica.me/sociopolitica.wordpress.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s