Muhammadiyah: Islam Kota Yang Semakin Elit (3)

SEBAGAI sebuah gerakan Islam sosial yang kini hampir memasuki usia 100 tahun, telah banyak yang dilakukan oleh Muhammadiyah bagi bangsa Indonesia secara luas. Dalam bidang pendidikan misalnya, hingga tahun 2000 ormas Islam itu memiliki 3.979 taman kanak-kanak, 33 taman pendidikan Alquran, 6 sekolah luar biasa, 940 sekolah dasar, 1.332 madrasah diniyah/ibtidaiyah, 2.143 sekolah lanjutan tingkat pertama (SMP dan MTs), 979 sekolah lanjutan tingkat atas (SMA, MA, SMK), 101 sekolah kejuruan, 13 mualimin/mualimat, 3 sekolah menengah farmasi, serta 64 pondok pesantren. Dalam bidang pendidikan tinggi, hingga tahun ini Muhammadiyah memiliki 36 universitas, 72 sekolah tinggi, 54 akademi, dan 4 politeknik.

KH AHMAD DAHLAN, FIKIH AL-MAUN. “Konsep itu dikembangkan karena adanya pandangan, bahwa umat Islam sampai sekarang masih mengalami ketertinggalan peradaban dan banyak yang menjadi penyandang masalah sosial, miskin, dan bodoh”. (Foto download)

Sementara itu, dalam bidang kesehatan, Muhammadiyah hingga tahun 2000 memiliki 30 rumah sakit umum, 13 rumah sakit bersalin, 80 rumah bersalin, 35 balai kesehatan ibu dan anak (BKIA), 63 balai pengobatan, 20 poliklinik, balai kesehatan masyarakat, dan layanan kesehatan yang lain. Lalu dalam bidang kesejahteraan sosial, hingga 2000 Muhammadiyah telah memiliki 228 panti asuhan yatim, 18 panti jompo, 22 balai kesehatan sosial, 161 santunan keluarga, 5 panti wreda/manula, 13 santunan wreda/ manula, 1 panti cacat netra, 38 santunan kematian, serta 15 BPKM. Dalam bidang ekonomi, hingga 2000 Muhammadiyah memiliki 5 bank perkreditan rakyat (BPR) (Suara Merdeka, Semarang, Rabu, 13 Juli 2005).

Peningkatan jumlah yang demikian spektakuler tidak dapat menutup kenyataan lain di seputar perkembangan amal usaha Muhammadiyah tersebut, yaitu kualitas amal usaha tersebut. Harus diakui, amal usaha Muhammadiyah untuk hal kualitas mengalami dua masalah sekaligus. Pertama, keterlambatan pertumbuhan kualitas dibandingkan dengan penambahan jumlah yang spektakuler. Kedua, ketidakmerataan pengembangan mutu lembaga pendidikan. Namun, kesuksesan Muhammadiyah dalam bidang usaha (ijtihad amali) itu tidak membuatnya lepas dari kritik kader-kadernya. Saat menjabat sebagai Ketua Pemuda Muhammadiyah, Din Syamsudin, pernah melontarkan kritik tajam. “Muhammadiyah telah berubah dari pergerakan tajdid menjadi gerakan amal usaha”, katanya. Kata amal usaha ditujukan pada perkembangan jumlah sekolah, rumah sakit, dan lembaga ekonomi milik Muhammadiyah (Islam Digest Republika, 22 November 2009).

Banyak sorotan yang diarahkan pada amal usaha di bidang pendidikan, seperti sekolah-sekolah tingkat dasar ataupun menengah serta perguruan tinggi karena lembaga-lembaga tersebut belum mampu menunjukkan daya saing pada tingkat nasional, apalagi internasional. Selain itu, banyak evaluasi yang diarahkan kepada organisasi itu terutama dalam wilayah pemahaman keagamaan yang berimplikasi pada praksis sosial. Dalam bidang teologi, banyak pihak menilai, organisasi dan gerakan Islam Muhammadiyah termasuk dalam kelompok Islam yang menginginkan pemberlakuan ajaran Islam autentik dan murni.

Dari catatan Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang (2005), terungkap bahwa sebagai sebuah organisasi yang telah berusia hampir satu abad, kekuatan Muhammadiyah terletak pada reputasinya sebagai gerakan Islam modern yang dikenal luas secara nasional ataupun internasional (http://www.suaramerdeka.com/harian/0507/ 13/nas12.htm). Dari perkembangan kehidupan nasional, Muhammadiyah menjadi modal sosial dan moral bangsa. Dengan jaringan organisasi yang sudah tersebar di seluruh penjuru Tanah Air dan beberapa negara ASEAN, membuat Muhammadiyah lebih mudah dalam mengembangkan aktivitas pada akar rumput yang membutuhkan koordinasi berjenjang dan melibatkan partisipasi masyarakat di berbagai daerah. Juga, dukungan lembaga-lembaga amal usaha yang sangat besar, secara kuantitatif menjadi aset sumber daya yang sangat berharga bagi Muhammadiyah untuk terus bertahan di tengah-tengah badai krisis yang telah melanda negara ini

Namun, di samping kekuatan itu, organisasi ini masih diwarnai beberapa kelemahan, antara lain kecenderungannya sebagai gerakan aksi membuat gerakan pemikiran kurang berkembang dengan baik. Hal itu memicu beragam kritik dari berbagai kalangan yang mempunyai harapan besar agar Muhammadiyah memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Pertumbuhan organisasi yang telah makin besar membuat Muhammadiyah cenderung birokratis dan dinilai lamban dalam merespons persoalan-persoalan yang berkembang dalam masyarakat terutama dalam menyikapi masalah-masalah sosial baru, seperti isu pornografi-pornoaksi, masalah ketenagakerjaan, pelanggaran HAM, dan penyalahgunaan narkoba. Perkembangan organisasi dinilai belum mampu menyentuh persoalan akar rumput. Selain itu, perkembangan amal usaha yang sangat pesat secara kuantitaif belum diimbangi peningkatan kualitas yang berarti. Kenyataan ini membuat hasil-hasil yang telah dicapai oleh Muhammadiyah selama ini tidak begitu menarik perhatian masyarakat karena tidak dianggap sebagai inovasi baru.

Pengakuan masyarakat internasional terhadap Muhammadiyah sebagai salah satu pilar masyarakat madani diIndonesia membuka peluang kerja sama yang sangat luas dengan pemerintah di berbagai negara, ataupun dengan lembaga-lembaga internasional. Jika kesempatan tersebut dapat ditangkap dengan baik, tentulah akan sangat membantu gerak langkah Muhammadiyah di berbagai bidang, khususnya dalam peningkatan kualitas amal-amal usahanya. Juga, di era otonomi daerah yang memberikan keleluasaan pada pemerintah daerah untuk mengatur rumah tangga sendiri, dapat menjadi peluang bagus bagi Muhammadiyah di daerah-daerah untuk lebih berperan dalam pengambilan keputusan publik dan pembangunan daerah. Hal itu seharusnya dapat direspons dengan cepat oleh pimpinan Muhammadiyah di daerah sehingga kontribusinya akan makin diperhitungkan.

Arus besar sekularisme-materialisme yang melanda dunia sekarang ini menjadi godaan sekaligus tantangan yang besar bagi warga Muhammadiyah untuk dapat tetap memegang teguh komitmennya dalam menerapkan gaya hidup Islami yang modern. Dan tidak menjadi lebih ortodoks maupun kalah modern dari NU. Cengkeraman kapitalisme global memengaruhi orientasi perkembangan amal usaha Muhammadiyah menjadi lebih berorientasi profit dan lepas dari semangat awal sebagai penolong kesengsaraan masyarakat kelompok bawah. Kecenderungan ini sudah mulai tampak pada makin mahalnya biaya pendidikan di berbagai amal usaha pendidikan dan biaya pengobatan di rumah-rumah sakit yang dikelola Muhammadiyah

Memasuki satu abad Muhammadiyah, para intelektualnya telah melakukan sebuah terobosan yang cemerlang dengan Fikih Al-Maun dalam upaya mencerdaskan rakkyat, menciptakan kemandirian bangsa, dan terbebas dari berbagai macam penindasan dan kebodohan. Konsep itu dikembangkan karena adanya pandangan, bahwa umat Islam sampai sekarang masih mengalami ketertinggalan peradaban dan banyak yang menjadi penyandang masalah sosial, miskin, dan bodoh. Sebenarnya, Fikih Al-Maun itu sudah menjadi bagian dan tradisi di Muhammadiyah, tetapi belum terbingkai dengan pemahaman yang luas sebagai basis teologi.

Namun, semua gagasan itu berhenti pada tataran teologi, tidak diejawantahkan dalam bentuk fikih. Dalam pandangan Ahmad Najib Burhani, dosen Universitas Paramadina, Jakarta, dalam artikelnya yang berjudul “Dari Teologi Mustadl’afin Menuju Fiqh Mustadl’afin”, gerakan pembaruan dan pengembangan konsep Amal Al-Maun yang dikembangkan Amien Rais, Syafii Maarif, bahkan Din Syamsuddin, belum mampu menyosialisasikan gagasan tauhid sosial ini secara maksimal (Islam Digest Republika, 4 Juli 2010). Gerakan anti korupsi dengan semangat keagamaan, kendati sempat diikuti, namun akhirnya berhenti pada tataran diskursus belaka. Gerakan anti korupsi tak mampu mengurangi tindak korupsi di Indonesia.

-Disusun untuk sociopolitica oleh Syamsir Alam, mantan aktivis mahasiswa era Orde Baru yang sudah lama mengubur ‘kapak perperangan’. Namun, tergerak untuk menggalinya kembali setelah melihat karut-marut situasi politik sekarang. 

Advertisements

One thought on “Muhammadiyah: Islam Kota Yang Semakin Elit (3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s