Cosmas Batubara dan Bung Karno

COSMAS BATUBARA –bersama Fahmi Idris, Rahman Tolleng, Mar’ie Muhammad, Subchan ZE, Liem Bian Koen dan beberapa tokoh lainnya– adalah bagian tak terpisahkan dalam salah satu proses perubahan politik Indonesia pada tonggak waktu 1966. Suatu rezim kekuasaan di bawah tokoh legendaris dalam sejarah Indonesia kontemporer Bung Karno, pengakhirannya berawal dari sana. Kenapa rezim itu harus berakhir? Sedikitnya tergambar melalui narasi yang disarikan dari catatan Cosmas Batubara berikut ini.
“Perkembangan politik Indonesia selama demokrasi terpimpin di bawah Presiden Soekarno dari tahun 1960-1965 diwarnai tiga kekuatan politik. Dari seluruh politisi dan organisasi masyarakat serta angkatan bersenjata ada yang berorientasi kepada diri Presiden Soekarno, sebagian lagi berorientasi kepada Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, dan ada yang berorientasi kepada Partai Komunis Indonesia. Pada saat itu terjadi pertarungan ideologi antara yang pro Nasakom dan yang tidak menyetujui Nasakom (Nasionalis-Agama-Komunis).” Singkatnya pertarungan antara ideologi komunis versus Pancasila.
“Posisi Presiden Soekarno dengan para pengikut sebenarnya berada di tengah. Akan tetapi dalam realitas politik, kelompok yang tidak setuju kepada komunis berpendapat bahwa Presiden Soekarno lebih sering memberi angin kepada kelompok komunis.”

Tritura
Setelah dicetuskannya Tritura –Tri Tuntutan Rakyat– tanggal 10 Januari 1966, setiap hari ada demonstrasi di Jakarta yang diikuti para mahasiswa dan pelajar dengan sasaran yang beragam-ragam. “Karena mahasiswa terus menerus setiap hari melakukan demonstrasi di seluruh Jakarta, maka pada tanggal 15 Januari 1966 Presidium KAMI Pusat, KAMI Jaya dan KAMI UI diundang hadir di Sidang Kabinet Paripurna di Istana Bogor.”

COSMAS BATUBARA (19 September 1938 – 8 Agustus 2019). Kata Bung Karno kepada Roeslan Abdoelgani: “…… Mereka ini belum mengerti revolusi. Bawa mereka dan ajar tentang revolusi….”. (Tulisan ini disarikan dari tulisan Cosmas Batubara dalam buku ‘SIMTON POLITIK 1965 – PKI dalam perspektif Pembalasan dan Pengampunan’, Kata Hasta 2007. Gambar foto original, download)

Cosmas menuturkan, demonstrasi tanggal 15 Januari 1966 itu merupakan demonstrasi mahasiswa kedua terbesar setelah Jakarta. Jalan-jalan sekitar Istana Bogor dipadati mahasiswa dan pelajar sehingga para menteri peserta rapat sukar melewati para demonstran. Pada saat itu terdengar juga teriakan “menteri goblok!” kalau ada mobil menteri melewati para demonstran. Berpuluh-puluh truk mengangkut mahasiswa dari Jakarta. Truk-truk itu merupakan sumbangan Organda membantu mahasiswa menuntut tindakan Presiden terhadap keadaan ekonomi dan politik. “Pada tanggal 15 Januari itu saya bersalaman dengan Presiden Soekarno untuk pertama kalinya.”
Dalam pidato Presiden Soekarno di Sidang Kabinet Paripurna tersebut, menurut Cosmas “terdapat kesan bahwa beliau belum berani mengambil tindakan terhadap Gerakan 30 September.” Oleh karena tidak ada respon konkrit Presiden Soekarno terhadap Tritura, maka para mahasiswa tetap bertahan di jalan-jalan sekitar Istana Bogor walau Sidang Kabinet telah selesai. “Karena para mahasiswa tidak bubar, maka kami dari Presidium KAMI Pusat meminta Jenderal Soeharto berbicara di depan mahasiswa. Saya masih ingat bagaimana saya dengan Jenderal Soeharto sama-sama naik ke atas tembok pagar Istana Bogor dekat Kantor Pos, berbicara dengan para demonstran. Saya sampaikan kepada Jenderal Soeharto bahwa para demonstran tak mau pulang kalau PKI belum dibubarkan pemerintah”. Terhadap ucapan Cosmas, Jenderal Soeharto menanggapi, “PKI sudah dibekukan”. Mendengar ucapan Soeharto mahasiswa bubar dan pulang ke Jakarta.
Setelah turun dari tembok Istana Bogor sambil berjalan menuju istana, Cosmas –yang kala itu Ketua Presidium KAMI– bertanya kepada Jenderal Soeharto apa maksudnya PKI sudah bubar? Beliau mengatakan bahwa sudah ada telegram dari Penguasa Perang Pusat yang isinya supaya PKI dibubarkan di daerah-daerah. “Tetapi yang dituntut mahasiswa sebenarnya adalah ada pernyataan resmi Presiden Soekarno tentang pembubaran PKI. Besoknya para mahasiswa lanjut melakukan demonstrasi di Jakarta dan kota-kota lain karena siaran RRI tentang pidato Presiden Soekarno di Rapat Paripurna Kabinet tanggal 15 Januari 1966 tidak ada isinya yang menyatakan PKI bubar. Setiap hari di berbagai kota perguruan tinggi terutama di Jakarta, demonstrasi mahasiswa berlangsung terus.”
Sebagai respon pemerintah terhadap tuntutan mahasiswa, maka pada tanggal 18 Januari 1966 kembali Presidium KAMI Pusat, KAMI Jaya dan KAMI UI diterima Presiden Soekarno didampingi Menko Hubra Roeslan Abdoelgani, Menteri PTIP Syarief Thayib, Menteri Perkebunan Frans Seda di Istana Negara Jakarta. Tiga tuntutan mahasiswa dalam Tritura adalah: Turunkan Harga, Rombak Kabinet dan Bubarkan PKI.

“Bawa mereka dan ajar tentang revolusi” kata Bung Karno
Sebelum para mahasiswa diterima Presiden, ajudan Presiden, Mayor KKO Widjanarko, mengatakan Presiden “akan marah kepada anda semua”. Karena itu, “saran saya, diam saja dan dengar. Biasanya Presiden itu akan marah-marah selama kurang lebih 30 menit”. Apa yang dikatakan Mayor Widjanarko memang benar. Setengah jam pertama Presiden Soekarno marah dan mengatakan bahwa para mahasiswa sudah ditunggangi Nekolim (Neo Kolonialisme dan Imperialisme). Kemudian secara khusus Presiden Soekarno marah kepada Cosmas dengan mengatakan, “saudara Cosmas sebagai orang Katolik, mengapa ikut-ikut demonstrasi dan saya dapat laporan bahwa anggota PMKRI menulis kata-kata yang tidak sopan terhadap Ibu Hartini. Saudara harus tahu bahwa Paus menghargai saya dan memberi bintang kepada saya. Betul kan saudara Frans Seda bahwa Paus baik dengan saya?”. Frans Seda mengangguk.
“Presiden Soekarno tidak sadar bahwa para mahasiswa yang datang masing-masing sangat independen. Kalau saya diserang secara pribadi bukan berarti yang lain akan diam.” Setelah Presiden Soekarno marah-marah, para peserta pertemuan satu persatu melakukan reaksi dan akhirnya Presiden Soekarno kewalahan. Lalu berkata, “Roeslan, mereka ini belum mengerti revolusi. Bawa mereka dan ajar tentang revolusi”. Akhirnya pertemuan selesai tanpa ada kejelasan tentang Tritura.
Seperti hari-hari sebelumnya para mahasiswa mulai lagi demonstrasi. Dalam puncak kejengkelannya terhadap demonstrasi KAMI, maka pada tanggal 25 Februari 1966 Presiden Soekarno mengeluarkan putusan membubarkan KAMI yang diikuti pengumuman tidak boleh berkumpul lebih dari lima orang. Dalam demonstrasi, Arief Rahman Hakim mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tertembak dan meninggal di lapangan Monas di depan Istana. Meskipun KAMI dibubarkan dan anggota Presidium KAMI Pusat ditangkap dan ditahan di Kodam Jaya dekat lapangan Banteng, mahasiswa tidak menerima pembubaran KAMI. Untuk memudahkan pengorganisasian mahasiswa, dibentuklah Laskar Ampera Arief Rahman Hakim dengan komandannya Fahmi Idris dan dibentuk batalion-batalion di berbagai tempat di Jakarta.
“Meskipun pemerintah sudah membekukan KAMI, tetapi demonstrasi tetap berjalan dan berbagai bagian kota Jakarta sering macet total karena para demonstran menahan mobil dan mengambil pentil ban mobil. Karena bannya kempes maka mobil berhenti, dan jalanan pun menjadi macet.”
COSMAS BATUBARA adalah mahasiswa Perguruan Tinggi Publisistik anggota PMKRI yang merupakan salah satu tokoh utama pergerakan mahasiswa tahun 1966. Ia adalah satu di antara beberapa Ketua Presidium KAMI Pusat yang amat populer kala itu. Usai pergerakan 1966 meneruskan dan menyelesaikan pendikan tingginya di Fisip Universitas Indonesia (1974) dan memperoleh gelar doktor di fakultas dan universitas yang sama 2002. Sempat menjadi anggota DPR-GR dan DPR-RI selama kurang lebih 11 tahun dan menjadi pula anggota DPP Golkar. Selama tiga periode turut serta dalam kabinet masa Soeharto, berturut-turut sebagai Menteri Muda Urusan Perumahan Rakyat, Menteri Negara Perumahan Rakyat dan Menteri Tenaga Kerja.
Kamis 8 Agustus 2019 pukul 03.27 dinihari, Cosmas Batubara dipanggil olehNya. Dimakamkan Sabtu 10 Agustus di TMP Kalibata, tempat peritirahatan terakhir yang sangat pantas baginya. Begitu pula hendaknya di alam sana, tempat yang layak di sisiNya. (socio-politica.com/media-karya.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s