Di Balik Cerita Tiket Airlines Murah dan Mahal: Sebuah Gaya Pasar Bebas

PADA MUSIM liburan yang baru lalu dan masa menjelang lebaran saat ini, perusahaan-perusahaan penerbangan dalam negeri mengalami ‘panen’. Pemesanan dan pembelian tiket airlines berbagai jurusan, khususnya dari Jakarta, meningkat dan bersamaan dengan itu harga tiket pun melonjak sampai batas atas tarif yang diizinkan peraturan yang ada. Bahkan, mengikuti pengalaman tahun-tahun sebelumnya, bukan tak mungkin ada harga tiket yang dinaikkan melampaui batas atas tarif tersebut.

SAAT LION AIR TERGELINCIR. “Meski Garuda dan berbagai perusahaan penerbangan lainnya juga memakai revenue management software, tetapi hanya Air Asia (dulu Awair) dan Lion Air yang tampaknya ‘paling mengerti’ bagaimana mendongkraknya supaya menjadi buah bibir masyarakat”. (jurug.blogspot.com).

Dalam keadaan seperti itu, saat harga tiket airlines meloncat sampai tiga kali lipat dari ‘masa-masa sebelumnya’, keluhan pun bermunculan. Tapi, walaupun mengeluh panjang-pendek, toh mereka yang memang merasa ‘butuh’ dan ‘harus’ mudik lebaran, tetap saja ‘menyambar’ berapapun harga tiket itu. Kalau ada calon pembeli tiket yang mengurungkan niat, telah siap dua atau tiga pembeli lainnya untuk menggantikan.

Suggesti banyak pilihan, dan murah. SEJAK pemerintah –dalam hal ini Kementerian Perhubungan– beberapa tahun lalu memberi izin bagi seolah-olah ‘sebanyak-banyak’nya perusahaan penerbangan beroperasi di Indonesia, maka seolah-olah pula para penumpang Indonesia dimanjakan. Banyak pilihan penerbangan dengan macam-macam warna pesawat, ada yang merah, dan ada yang putih. Ada pula yang oranye, biru, hijau atau multi warna, meski belum ada yang senekad perusahaan penerbangan dengan konsep tarif murah di AS yang sekujur tubuh pesawatnya dibalut graffiti berwarna semarak. Paling memikat, tentunya adalah tawaran tiket harga murah. Namun begitu orang mulai berduyun-duyun memesan dan membeli tiket, entah karena pengaruh iklan entah karena berita dari mulut ke mulut, pada prakteknya hanya sedikit sekali yang akan menikmati harga termurah itu, yaitu para pemesan awal atau yang sudah memesan jauh hari sebelumnya –kadang-kadang 6 bulan sebelumnya. Lainnya, hanya menikmati harga yang terasa masih murah atau yang sebenarnya sudah lebih mahal namun tersuggestikan murah. Dan, terakhir mereka yang berangkat mendadak karena suatu kebutuhan mendesak, akan cenderung mendapat harga mendekati batas atas.

Apakah batas tarif atas itu? Ini adalah harga patokan yang diberikan regulator dunia penerbangan, pemerintah, untuk penjualan dengan harga termahal. Harga ini biasanya dan bahkan bisa dipastikan sudah cukup jauh di atas harga impas. Pejabat pemerintah kita tidak punya tradisi memencet kaum pemodal, melainkan terbiasa ‘bersahabat’ dengan dunia usaha, khususnya di era wealth driven economy seperti sekarang. Dalam dunia penerbangan saat ini, beberapa perusahaan bisa berjaya dan berkembang terus, di antaranya dengan masing-masing menikmati pangsa pasar 6 juta sampai 9 juta penumpang per tahun. Kalau ada yang collapse, tak lain karena terlalu spekulatif waktu mendirikan airline, atau tubuhnya digerogoti korupsi internal pengelolanya. BUMN Merpati Nusantara Airlines misalnya, tak henti-hentinya terancam bubar, karena korupsi yang tak henti-henti di tubuhnya, mulai dari pengadaan pesawat sampai korupsi sehari-hari dari soal katering sampai soal tiket.

Dua di antara perusahaan dengan rute domestik yang berjaya di Indonesia saat ini dengan promosi tiket murah adalah Air Asia dan Lion Air. Air Asia tadinya bernama Awair  sebuah perusahaan lokal yang kemudian ‘merger’ dengan perusahaan Malaysia. Baru-baru ini mereka mengumumkan akan mengakuisisi perusahaan lokal lainnya, Batavia Air. Sementara itu, Lion Air, didirikan dan dikelola oleh seorang pengusaha yang tadinya ‘buta’ dengan dunia penerbangan.

Sampai bulan Juli menjelang lebaran ini, Air Asia masih selalu muncul dengan iklan tiket murah. Untuk periode tertentu liburan akhir tahun yang masih sekitar 5 bulan lagi, mereka menawarkan tiket Jakarta-Semarang dengan harga mulai Rp.99 ribu dan Jakarta-Bali serta Jakarta Singapura mulai Rp. 199 ribu untuk sekali jalan. Pulangnya, tidak jelas. Pasti lebih mahal dengan kemungkinan sangat mahal, sesuai pengalaman para traveller yang pernah melakoni beli tiket murah sekali jalan.

Apakah tiket murah itu betul-betul ada dalam kenyataan? Betul, ada sejumlah kesaksian yang membuktikan bahwa memang benar ada tiket murah. Tapi, sejumlah kesaksian lain menyebutkan, jarang dan susah mendapatkan tiket semurah yang diiklankan, kecuali betul-betul memesannya lebih cepat, misalnya 6 bulan sebelumnya. Kalau sebuah maskapai penerbangan menjual seluruh tiketnya dengan harga murah seperti yang diiklankan, tak lama ia akan rontok dari udara, dalam arti kiasan maupun dalam arti sebenarnya.

Lalu apa sebenarnya cerita di balik tiket murah?

Seorang mantan pengelola sebuah perusahaan penerbangan swasta yang pernah berjaya di masa Soeharto tapi kini sudah rontok, Hasan Soedjono, pernah menulis di Buletin s2b tentang lika-liku di belakang tarif murah ini. Sebuah tulisan menarik. Kita sarikan dan paparkan ulang di bagian berikut. Sama menariknya, sebenarnya adalah Buletin s2b itu, sebuah media uneg-uneg dari seorang tokoh gerakan mahasiswa 1966, RAF Mully yang kini sudah almarhum. Sambil memuat tulisan Hasan Soedjono pada edisi Februari 2005, RAF Mully, memberi komentar pendahuluan bahwa tarif murah yang ditawarkan beberapa perusahaan penerbangan waktu itu, fantastis murah sehingga seringkali terasa tak masuk akal lagi. “Pikiran kita jadi menyeleweng, jangan-jangan pesawat yang dipakai adalah kotak sabun yang dimake-up”. Atau, “ada subsidi gelap dari pemerintah, karena yang empunya maskapai penerbangan adalah anaknya pejabat”.

Algoritma John Forbes Nash. SEMUA airline yang  menggunakan CRS (computerized reservation system) berkecenderungan kuat  mengaplikasikan software (peranti lunak) “revenue management”. Peranti lunak yang dipakai CRS airline menggunakan algoritma temuan John Forbes Nash, seorang ahli matematika dari Princeton University, pemenang Hadiah Nobel 1994 dalam ekonomi. Penemuan John Forbes Nash itu adalah algoritma pemecahan bidding strategy, yang akan konsisten membuat pasar yang tidak adil dan rata tingkat pemilikan informasinya, tetap menjadi lebih efisien. Aplikasi komersial yang pertama dari terobosan John Nash itu, memang adalah untuk airlines reservations.

Tugas dari revenue management software adalah untuk mengoptimasi yield (harga tiket tempat duduk) untuk setiap penerbangan. Prinsipnya, mengisi pesawat semaksimal mungkin, yang terdiri dari berlapis tarif untuk setiap tempat duduk yang ditawarkan. Kuncinya adalah bagaimana menyiasati pasar meski diliputi ketidakpastian. Apakah informasi yang dimiliki demand-side (calon penumpang) yang tidak dimiliki oleh supply-side (maskapai penerbangan)? Apa yang tidak diketahui maskapai penerbangan secara pasti adalah apakah si pemesan tempat memang akan sungguh-sungguh terbang. Hanya si pemesan tempat lah yang tahu parameter tersebut. Sebaliknya, informasi apakah yang tidak diketahui konsumen, tetapi hanya diketahui produsen (maskapai penerbangan)? Tak lain adalah jumlah kursi yang tersedia. Hanya maskapai penerbangan yang tahu, tetapi konsumen tak tahu. Dinamika untuk bidding dalam situasi di mana semua pemain tidak memiliki informasi lengkap inilah yang dipelajari ahli matematika dari Princeton tersebut.

Dinamika pasar sebenarnya sederhana saja. Semakin dini sang produsen (maskapai penerbangan) mendapat kepastian penumpang yang akan berangkat –atau dengan kata lain, semakin dini ketidakpastian yang biasanya diderita oleh produsen berubah menjadi kepastian– maka semakin rela pula maskapai penerbangan membayar mahal untuk informasi dini itu. Cara membayarnya? Tak lain, dengan memberi diskon tebal alias tarif murah. Di lain pihak, semakin mundur kepastian tersebut diperoleh, maka sang konsumen harus membayar lebih mahal karena menikmati tenggang waktu sampai mepet batas atau deadline sebelum harus memastikan pesanannya.

Meski Garuda dan berbagai perusahaan penerbangan lainnya juga memakai revenue management software, tetapi hanya Air Asia (dulu Awair) dan Lion Air yang tampaknya ‘paling mengerti’ bagaimana mendongkraknya supaya menjadi buah bibir masyarakat. Caranya sederhana saja. Katakan, sebuah pesawat memiliki kapasitas 100 kursi. Masing-masing direktur komersial setiap maskapai penerbangan bebas menetapkan beberapa class dan atau sub-class yang ingin ia berlakukan. Ekstrimnya, karena ada 100 kursi, maka 100 sub-class pun bisa di-input ke dalam software revenue management. Bagaimana masing-masing sub-class terisi? Berapa kursi untuk setiap sub-class?

Apa boleh buat, kapitalistik-liberal. Keputusan diserahkan kepada software. Selain mengamati dinamika reservasi yang berjalan, sang software mengadakan regresi dari korelasi ke semua penerbangan sebelumnya. software juga membandingkan untuk setiap saat, berapa pesanan masuk (reservations), dan berapa yang terealisir (confirmed departures). Data inilah yang akan memandu software untuk membagi sub-class secara optimal untuk semua penerbangan yang sedang ditawarkan ke pasar tetapi belum diterbangkan. Sementara Garuda dan Merpati hanya menetapkan, katakan saja, 5 sub-class, maka Air Asia dan Lion Air menetapkan 20 sub-class. Dengan sendirinya sub-class Lion Air yang termurah jauh akan lebih rendah dari sub-class Garuda yang termurah.

Air Asia dan Lion Air mengiklankan sub-class mereka yang termurah, tetapi yang bisa menikmati harga tersebut hanyalah mereka yang memesan dari jauh hari, dan pasti berangkat. Dan maskapai penerbangan tersebut memastikan pasar sangat mengerti bahwa ada tiket super murah. Mereka juga memastikan bahwa pasar tidak menyadari bahwa yang dimaksudkan adalah: “selama ada persediaan”. Mereka yang sekedar tergiur akan adanya berita tiket super murah ke Bali, cenderung tidak langsung memanfaatkannya (bahkan meneruskan berita bagus tersebut ke relasi lain). Nah, kelambanan seperti itulah yang mendongkrak harga naik. Pada saat seseorang akhirnya memutuskan jadi berangkat, harga tiket sudah tidak lagi super murah seperti yang “dihembuskan semua orang”. Tanyakan saja kepada yang pernah naik pesawat maskapai-maskapai penerbangan yang berkonsep ‘tiket murah’, apakah benar mereka membayar sesuai dengan tarif di iklan? Toh, tak urung ‘suggesti’ yang berhasil ditanamkan di kepala publik tentang adanya tiket murah, pada akhirnya menciptakan keyakinan kebanyakan masyarakat bahwa tarif pesawat terbang saat ini lebih murah dari masa-masa yang lalu. Makin berduyun-duyunlah orang naik pesawat terbang. Sebagian untuk tujuan produktif dan mungkin mendesak, tapi tak kalah banyaknya, “ya, naik pesawat saja, mumpung murah”.

Makanya, rahasia maskapai penerbangan yang paling harus dijaga adalah jumlah rencana produksi, dan jumlah seat yang belum terjual. Dalam dunia maskapai penerbangan, diistilahkan sebagai inventory. Tidak akan pernah sekalipun sebuah airlines memberikan informasi berapa seat yang masih tersedia (belum terjual). Portal-portal travel hanya bisa menjamin “x” kursi, tetapi tidak pernah bisa menawarkan seluruh sisa tempat duduk pesawat. Hanya pihak airline yang boleh tahu berapa kursi masih tersisa. Apa boleh buat, memang sebuah gaya yang beraroma kapitalistik-liberal yang betul-betul menganut pasar bebas berdasarkan supply and demand.

TAK lupa, bagi para pemudik lebaran yang menggunakan pesawat terbang, selamat menikmati penerbangan anda. Mohon maaf lahir batin, kalau ternyata tiketnya sangat tidak murah. Maklum, lebaran.

(socio-politica.com/sociopolitica.wordpress.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s